Ka Kankemenag Kab. Batang
Drs. H. Moch. Bisri, M.Ag
NIP. 195905271987031003

MADINAH, (MCH)Berhaji itu kegiatan yang ditunggu-tunggu tapi sekaligus ditakuti oleh orang yang akan menunaikannnya. Ditunggu-tunggu karena orang yang berniat haji harus rela melewati daftar tunggu yang tidak sebentar. Di daerah tertentu daftar tunggu untuk berhaji (waiting list) seperti di Sulteng selama lima tahun,.....
secara nasional 900.000 orang sudah mendaftar untuk berhaji. Namun ketika masa "panggilan" tiba, mendadak rasa takut berhaji menyelimuti hati. Hal ini karena sebelum berangkat sudah "diteror" oleh berbagai cerita tentang haji.
Berhaji diibaratkan sebuah arena pembalasan terhadap semua perbuatan selama di Tanah Air khususnya yang menyangkut perbuatan buruk. Kesulitan yang dialami seseorang yang berhaji adalah cerminan dari perbuatan buruk yang dilakukan selama hidupnya. Demikian pula dengan cerita "terror" lain selama di Tanah Suci. Ucapan dan perbuatan yang salah akan dibalas seketika itu juga. Tidak ada ampun. Akibatnya, banyak orang yang stress sebelum berangkat dan tidak sedikit yang stress ketika di Tanah Suci.
Kesimpulannya adalah orang yang berhaji itu orang yang sudah suci batinnya dan sudah siap menerima risiko pembalasan apa pun. Dan orang yang merasa masih "kotor" jiwanya merasa belum pantas dan belum siap berhaji dan "dibalas".
Tanah Suci adalah arena untuk membersihkan diri dari berbagai "kotoran" jiwa. Bermuwajjahah langsung dengan Sang Khalik ketika bersimpuh di depan Ka`bah yang selama ini hanya dilihat melalui gambar partai. Atau mendekatkan langsung dengan pembawa wahyu Ilahi ketika berziarah di makam Rasulullah di kompleks Mesjid Nabawi.
Berhaji itu perjalanan yang menyenangkan dan mudah dilakukan oleh setiap orang. Dimulai dari persiapan wukuf (berdiam diri pada 9 Zulhijah dimulai dari tergelincir hingga terbenamnya matahari) di Arafah. Pada malam sebelumnya jemaah dari seluruh dunia ini, dengan niat ihram sudah bergerak menuju Arafah dan menginap semalam di tenda-tenda yang sudah disiapkan. Sebagian jemaah malam itu bahkan melakukan tarwiyah di Mina.
Kegiatan yang dianjurkan ketika wukuf adalah berzikir, membaca Alquran, berdoa dan memohon ampun atas segala dosa atau kegiatan positif lainnya. Tidak melakukan apa-apa, hanya berdiam diri juga tidak menjadi masalah. Hanya saja menyianyiakan momen yang sangat penting di mana setiap doa diijabah.
Setelah lewat terbenamnya matahari 9 Zulhijah, jemaah mulai bergerak ke Muzdalifah hingga lewat tengah malam. Di Muzdalifah ini jemaah mengumpulkan kerikil untuk persiapan lontar jamrah (kerikil yang diambil ketika di Muzdalifah) di Jamarat (Mina). Lewat tengah malam 10 Zulhijah, jemaah menuju ke Mina berjalan kaki untuk melakukan lontar Jamrah Aqabah (sebanyak 7 kali lemparan), simbolisasi keluarga Ibrahim yang menghardik setan yang menggodanya untuk tidak merelakan Ismail dikorbankan.
Sampailah masa tahallul awal (memotong rambut) yang berarti diperbolehkan melepas ihram dan tidak ada larangan untuk melakukan kegiatan yang dilarang selama ihram. Apabila fisik masih kuat, perjalanan haji dilanjutkan ke Masjidil Haram untuk Tawaf Ifadhah (mengelilingi Ka`bah dengan tujuh kali putaran dengan posisi Ka`bah di sebelah kiri/berlawanan dengan arah jarum jam) dan sa`i (berjalan antara Bukit Sofa dan Marwa tujuh kali perjalanan).
Apabila kemampuan fisik sudah tidak memungkinkan, maka jemaah kembali ke tenda di Mina sedangkan Tawaf Ifadhah dan sa`i dilakukan pada hari berikutnya karena semua perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki. Yang paling efektif karena terjadi kemacetan luar biasa di Kota Mekah pada hari-hari tersebut.
Selama hari tasyriq (11-13 Zulhijah) jemaah menginap di tenda di Mina dan melakukan 3 kali jumrah; Ula, Wustha, Aqabah. Namun bagi jemaah yang mengambil nafar awal, maka kegiatan menginap dan lempar jumrah hanya dilakukan dua kali (11-12 Zulhijah), dan apabila mengambil nafar tsani, maka prosesi di Mina dilakukan hingga 13 Zulhijah, setelah itu usai sudah rangkaian kegiatan haji dengan diakhiri tahallul tsani. Sebelum bertolak ke Tanah Air harus melakukan Tawaf Wada` (Tawaf Perpisahan).
Persoalan sesungguhnya adalah kemampuan setiap orang untuk beradaptasi dan berkompromi dengan lingkungan yang sama sekali baru, berbeda dengan kebiasaan dan rutinitas ketika berada di Tanah Air.
Pada hari itu, jutaan Muslim dari berbagai negara bergerak ke tempat yang sama, melakukan aktivitas yang sama, di waktu yang sama dan tujuan pun sama, membawa konsekuensi mengubah pola hidup bagi setiap orang. Makan antre, kamar mandi antre, tidur berdesak-desakan dengan orang lain beralas karpet dan beratap tenda, serta perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki.
Apabila jemaah sudah siap dengankonsekuensi seperti itu, perjalanan haji terasa nyaman, mudah dan menyenangkan. Perjalanan haji mengingatkan ketika mengikuti perkemahan Perjusami yang diadakan oleh Pramuka. Masing-masing dituntut mandiri, berkompromi dan beradaptasi dengan lingkungan yang membutuhkan kesabaran.
Seorang psikiater di Balai Pengobatan Haji Indonesia menjelaskan, kegagalan seseorang beradaptasi dengan lingkungan dan suasana baru membuat orang tertekan mental dan kemudian stress. Cara mengatasinya adalah menjaga kesadaran bahwa yang dilakukan adalah menjalankan perintah Allah SWT. Semoga menjadi haji mabrur.
Sumber : http://haji.depag.go.id/berita/118-haji-itu-mudah-dan-menyenangkan
0 komentar:
Posting Komentar